Psikologi dan Internet dalam
Lingkup Intrapersonal (3)
A. Internet Addiction
Pengertian adiksi
Adiksi adalah suatu gangguan yang bersifat
kronis dan kumat-kumatan, ditandai dengan perbuatan kompulsif yang
diulang-ulang oleh seseorang untuk memuaskan diri pada aktivitas tertentu.
Istilah ini biasa digunakan untuk menyebut ketergantungan terhadap NAPZA
(Narkotika, Alkohol, Psikotropik, dan Zat Adiktif lain). Tetapi tidak jarang
juga digunakan untuk menyebut ketergantungan pada judi, kompulsif makan,
belanja, internet dan lain-lain. Seperti halnya adiksi terhadap zat, adiksi
internet dapat diartikan sebagai pemakaian internet secara terus-menerus hingga
dapat mengganggu kehidupan sehari-hari penderitanya.
Kecanduan
internet atau yang biasa kita sebut dengan Internet Addiction Disorder (IAD),
menurut Stephen Juan, Ph.D. seorang antropolog di University of Sidney antara
lain:
1.
Selalu ingin menghabiskan lebih banyak
waktu di internet sehingga akan menguras waktu efektif yang ada.
2.
Jika tidak menggunakan internet, muncul
gejala-gejala penarikan diri seperti kecemasan, gelisah, mudah tersinggung,
bergetar, menggigil, gerakan mengetik tanpa sadar, obsesif, hingga berkhayal
atau bermimpi mengenai Internet.
3.
Jika terhubung dengan internet,
gejala-gejala penarikan diri tersebut akan hilang ataupun berkurang.
4.
Mengakses internet lebih lama dari yang
di niatkan.
5.
Cukup banyak porsi kegiatan yang
digunakan untuk aktivitas terkait internet, termasuk e-mail, browsing, dan
chatting.
6.
Mengurangi kegiatan penting, baik dalam
pekerjaan, belajar, sosial atau rekreasi, demi menggunakan internet.
7.
Hubungan sosial, pekerjaan, atau pendidikan
terancam terganggu karena penggunaan internet yang berlebihan.
8.
Internet digunakan untuk melarikan diri
dari perasaan bersalah, tak berdaya, kecemasan, atau depresi.
9.
Menyembunyikan penggunaan internet dari
keluarga atau teman.
Kriteria
untuk mengetahui seseorang telah mengalami adiksi terhadap internet diadaptasi
dari kriteria-kriteria ketergantungan zat seperti disebutkan di dalam DSM-IV,
yaitu :
a. Toleransi,
yang ditunjukkan dalam perilaku sebagai berikut :
i.
Kebutuhan meningkatkan waktu penggunaan internet
untuk mendapatkan kepuasan dan mengurangi efek keinginan terus-menerus memakai
internet
ii.
Secara nyata mengurangi efek keinginan
tersebut dengan melanjutkan pemakaian internet dengan waktu yang sama terus
menerus
b. Withdrawal,
yang termanifestasikan ke dalam salah satu ciri-ciri berikut :
i.
Kesulitan untuk menghentikan atau
mengurangi pemakaian internet, agitasi psikomotor, kecemasan, secara obsesif
memikirkan tentang apa yang sedang terjadi di internet, fantasi atau mimpi
tentang internet, sengaja atau tidak sengaja menggerakkan jari-jari seperti
gerakan sedang mengetik dengan komputer.
ii.
Pemakaian internet atau layanan online
yang mirip untuk melepaskan diri atau menghindarkan diri dari simptom-simptom
withdrawal.
c. Sering
menghabiskan waktu mengakses internet lebih lama dari yang direncanakan
(kehilangan orientasi waktu).
d. Gagal
mewujudkan keinginan untuk mengurangi atau mengontrol pemakaian internet.
e. Menghabiskan
banyak waktu dengan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan internet (misalnya
membeli buku-buku tentang internet, mencoba-coba browser WWW baru, dan mengatur
material-material hasil dari download).
f. Terganggunya
kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan keluarga, lingkungan, pekerjaan
akibat pemakaian internet.
g. Tetap
menggunakan internet secara berlebihan meskipun sudah memiliki pengetahuan
mengenai dampak-dampak negatif dari pemakaian internet secara berlebihan.
B. Jenis-Jenis Internet addiction
Berikut
ini adalah sub-sub tipe dari internet addiction menurut Kimberly S. Young, et.
al. (2006):
a. Cybersexual
Addiction
Termasuk ke dalam
cybersexual addiction antara lain adalah individu yang secara kompulsif
mengunjungi website-website khusus orang dewasa, melihat hal-hal yang berkaitan
dengan seksualitas yang tersaji secara eksplisit, dan terlibat dalam
pengunduhan dan distribusi gambar-gambar dan file-file khusus orang dewasa.
b. Cyber-Relationship
Addiction
Cyber-relationship
addiction mengacu pada individu yang senang mencari teman atau relasi secara
online. Individu tersebut menjadi kecanduan untuk ikut dalam layanan chat room
dan seringkali menjadi terlalu-terlibat dalam hubungan pertemanan online atau
terikat dalam perselingkuhan virtual.
c. Net
compulsions
Yang termasuk dalam sub
tipe net compulsions misalnya perjudian online, belanja online, dan perdagangan
online.
d. Information
Overload
Information overload
mengacu pada web surfing yang bersifat kompulsif.
e. Computer
Addiction
Salah satu bentuk dari computer
addiction adalah bermain game komputer yang bersifat obsesif.
Contoh kasus
·
Pada Februari, seorang anak berusia 22
tahun memukul ibunya dengan gada hingga meninggal karena mengusik dirinya yang
tengah bermain game internet. Setelah pembunuhan, dia melanjutkan permainan
onlinenya berjam-jam dan membayar dengan kartu kredit ibunya.
·
Insiden semacam itu telah memberikan
peringatan kepada negara, untuk melawan kecanduan internet. Pemerintahnya
mengumumkan bahwa mereka akan mengambil aksi melarang akses ke game online
populer, dan mengirimkan penasehat ke sekolah dasar untuk mendidik anak-anak
tentang penggunaan internet sehat.
·
Sedikit ironis bahwa apa yang diciptakan
untuk membuat hidup lebih baik justru membuat lebih buruk, ujar Park Hye-kyung,
Direktur I Will Center, pusat konseling pemerintah yang didirikan Desember
tahun lalu untuk fokus dalam pertumbuhan isu kecanduan internet.
·
Kecanduan internet tidak dikenali dalam
kondisi medis atau penyimpangan psikologis. Tapi seringkali memicu gejala
penyimpangan mental serius seperti penyakit kekurangan perhatian dan depresi.
Demikian Dr Kim Tae-hoon, psikiater yang merawat anak-anak.
·
Kim mengatakan bahwa internet terlalu
berlimpah di Korea Selatan. Lebih dari 90% rumah memiliki akses nirkabel,
seperti diungkapkan Organization for Economic Cooperation and Development.
Sebagai tambahan untuk menyebarluaskan akses, kafe internet yang dikenal dengan
PC rooms dibuka 24 jam di seluruh belahan negara.
·
Di Korea Selatan lebih mudah bagi
penduduk untuk memainkan game online daripada menginvestasikan hubungan
personal offline melalui pembicaraan tatap muka, tambahnya.
Kesimpulan
Internet memang
memiliki dampak buruk yang tidak main-main bagi penggunanya, namun internet
juga memiliki dampak positif dan manfaat yang cukup besar bagi kita semua.
Banyak hal yang kini menjadi mudah untuk ditemukan baik yang bermanfaat atau
merugikan karna adanya internet. Tapi kembali lagi ke individu masing-masing,
seberapa bijak menggunakan internet dan hanya untuk hal-hal positif. Bagi para
orang tua, perhatikanlah penggunaan internet anak-anak untuk meminimalisir
terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Daftar pustaka
Anima.
2007. Indonesian Psychologycal Journal.
Nama kelompok 5:
13515666 KARTIKA PURI PRASAKTI
16515948 TRIANITA PURBA
11515498 CHYCHY EKADARA NOVIANTIKA
10515872 ANNISA FITRIANA
11515694 DENNYSA SHAFIRA