Minggu, 10 Januari 2016

Puisi



KEBEBASAN

Peri itu kehausan. Ia menerjang nerjang kakinya yang bak di pasung. Berlalu lalang kian kemari mencari penawar dahaga. air mata berlarian menuruni pelupuk matanya hingga pipi. Ia terjebak dalan dahaga. Peri itu mencari kebebasan yang sepertinya tak kunjung di oper kepadanya. Ia lelah menunggu mana estafet sebelumnya. Apa telah di renggut semua dan tak tersisa? Atau memang ia belum berhak atas kebebasan. Airmata tiada henti hingga yang tersisa hanyalah isak tangis di tengah rimba keramaian kemuafikan dunia. seperti musafir yang akhirnya terlelap di sebuah rumah ibadah tua nan reyot. Sampai ia lelah dan terlelap dan terbangun di tepian sungai, sejuk. Banyak peri berlarian yang sepertinya dan ia tersapa "hai, selamat datang di dunia barumu, aku temanmu dan kita akan melalukan apapun yang disuka disini, biarkan jejak besi pasung mu itu perlahan menghilang"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar